Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Anak. Tampilkan semua postingan

Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Mendidik Seorang Anak (Bag. Pembahasan Point D)

| View Comments | Minggu, 25 November 2012
|

Pendidikan Anak
Kedua orang tua merupakan pendidik bagi anak-anak mereka, keduanyalah yang akan mencetak generasi-generasi penerus sesuai dengan apa-apa yang ia ajarkan kepada anaknya, seorang ayah adalah pemimpin bagi penghuni rumahnya, maka dia akan diminta pertanggung jawaban atas apa yang dia pimpin. Demikian pula seorang istri, dia adalah pemimpin di dalam rumahnya dan akan diminta pertangung jawaban atas aa yang ia pimpin. Oleh karena itu sangatlah penting bagi kedua orang tua untuk mengetahui hal-hal yang harus diperhatikan di dalam mencetak generasi penerus yang dicintai oleh Allah.
Berikut ini penulis paparkan beberapa poin-poin yang harus diperhatikan di dalam mendidik anak:
1.      Memenuhi Hak-Hak Anak

Disebutkan dalam atsar bahwa diantara hak anak terhadap orang tuanya adalah dididik dengan baik dan diberi nama yang baik. Umar radiallahu’anhu mengatakan, bahwa diantara hak anak terahadap orang tuanya adalah diajari baca tulis dan memanah serta tidak diberi rizki kecuali dengan yang halal dan baik. Diriwayatkan pula oleh Umar radiallahu’anhu bahwa ia mengatakan, ”Nikahilah wanita yang shalih, karena unsur keturunan itu berpengaruh”.[1]

2.      Menggunakan Cara Yang Baik Dalam Mendidikan Anak
Setiap anak memiliki karakteristik kejiwaan yang berebda-beda, kedua orang tua haruslah memahami perbedaan karakter tersebut, sehingga dia dapat masuk ke dalam jiwa, dan menyelam ke dalam dunia mereka yang masih bersih dan jernih, untuk selanjutnya menanamkan nilai-nilai yang tinggi dan sifat-sifat terpuji serta akhlak karimah dengan menggunakan cara yang baik.
Secara alamiah, kepribadian seorang ibu sangat dekat dengan anak-anaknya dan mencintai mereka. Dia pandai menarik hati mereka, sehingga mereka senantiasa membuka jiwa dan hati bagi sang ibu yang dicintainya. Mereka mengungkapkan berabgai permasalahna yang dihadapinya, sang ibupun menanggapinya dan berusaha untuk mengatasi dan mengarahkan mereka serta emngendalikan perasaan mereka, dengan tetap memperhatikan tingkat pemikiran dan usia mereka. Terkadang dia dia bermain dan bercanad dengan mereka, dan terkadang juga berbasa-basi dengan mereka sembari menyampaikan ungkapan-ungkapan yang menyenangkan, lemah lembut dan penuh kasih sayang. Yang semuanya itu menambah mereka semakin cinta dan sayang kepadanya, dan tidak merasa bosan mendengarkan arahan dan bimbingannya, sehingga dengan kesadaran hati mereka menjalankan perintah dan menerapkan nasihatnya. Ada perbedaan antara ketaan yang sebenarnya yang bersumber dari hati dan yang berdasarkan atas cinta ksaih, penghormatan, penghargaan dan kepercayaan, dengan ketaan palsu yang berdasar pada kekasaran, kekerasan, paksaan, dan ketidakhormatan. Dimana ketaan pertama merupakan ketaan abadi, kuat dan membuahkan hasil, sedangkan kedua adalah ketaatan temporer dan mandul serta akan cepat sirna dengan hilangnya kekerasan, kekasaran dan paksaan.[2]
Pernyataan di atas tidak berarti peran tersebut hanya dipegang oleh seorang ibu, akan tetapi seorang ayah juga berperan penting dalam memberikan pendidikan secara lemah lembut dan penuh kasih sayang kepada seorang anak.
Berikut ini adalah salah satu gambaran kasih sayang Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam kepada anak kecil yang dengan hal tersebut beliau juga mendidik dan melatih mereka. Diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya, dari hadits Hudzaifah radiallahu’anhu, beliau berkata:
”Jika kami menghadiri sebuah jamuan makan bersama Nabi shalallahu’alaihiwasallam, maka kami tidak akan meletakkan tangan kami pada makanan kecuali jika Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam, memulainya. Pada suatu kesempatan, kami menghadiri jamuan makan bersama beliau, kemudian datanglah seorang anak wanita seakan-akan dia didorong[3]sehingga meletakkan tangannya pada makanan, lalu Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam mengambil tangannya. Selanjutnya datanglah seorang Arab Badui, seakan-akan dia didorong lalu Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam mengambil tangannya dan bersabda, ’Sesungguhnya syaitan akan memakan makanan yang tidak disebutkan padanya Nama Allah, dan sesungguhnya dia mendorong anak wanita ini agar dia bisa makan, lalu au memegang tangannya, kemudian dia mendorong seorang Arab badui agar dia bisa makan, lalu akupun mengambil tangannya. Demi dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya, sesungguhnya tangannya (tangan syaitan) ada pada tanganku beserta tangannya.”[4]
3.      Memberikan Cinta dan Kasih Sayangnya Kepada Anak
Kedua orang tua yang benar-benar bertakwa senantiasa menyayangi anak-anaknya, karena memberikan kasih sayang merupakan moral Islam yang sangat mendasar, yang oleh Rasulullah shallahu’alaihiwasallam diperintahkan baik melaui ucapan maupun perbuatan.[5] Dan, kasih sayang ini merupakan akhlak yang paling menonjol, terutama kepada anak-anak, sebagaimana yang diceritakan Anas Radhiallahu’anhu:
”Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih sayang kepada keluarganya selain Rasulullah shallahu’alaihiwasallam. Pada aat ibrahim hendak dicarikan wanita yang menyusuinya dari kalangan keluarga Madinah, beliau pergi dan kami bersamanya allu menciumnya, dan kemudian pulang.[6]
Kasih sayang Rasulullah shallahu’alaihiwasallam meluas dari tunas-tugas Muslim yang mekar sampai ke anak-anak kecil yang masih senang bermain. Beliau senantiasa menanamkan kelembutan dan kasih sayangnya kepada mereka. Sebagaimana diriwayatkan Anas Radiallahu’anhu bahwa ”Setiap kali Rasulullah shallahu’alaihiwasallam berjalan melewati anak-anak kecil beliau senyum dan memberikan salam kepada mereka.”[7]
Rasulullah shallahu’alaihiwasallam adalah seorang pendidikan besar yang senantiasa berusaha membentuk jiwa supaya mengalir di dalamnya sumber-sumber kasih sayang, dan membuka saluran-saluran yang tersumbat supaya mengalir cinta dan kasih sayang yang merupakan ciri utama dari ciri-ciri khusus manusia.
Lihatlan kasih sayang penuh kelembutan yang tulus dan rasa hormat yang terjalin antara sebaik-baik ayah di permukaan bumi ini dan sebaik-baik seorang anak perempuan. Lihatlah jalinan yang terikat antara Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam dengan putrinya, Fathimah, salah seorang pemimpin wanita di dalam surga.
Setiap kali Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam, menemuinya, maka dia akan menyambutnya dengan berdiri dan menciumnya lalu mempersiapkan beliau untuk duduk. Emikian pula yang dilakukan oleh Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam, karena dialah yang mengajarkan dan yang membimbingnya. Setiap kali Fathimah datang, maka beliau akan berdiri, menciumnya dan mempersilahkannya untuk duduk.[8]
Inilah hadits yang menceritakan kisah tersebut:
Diriwayatkan oleh Abu Dawud, at Tirmidzi, An Nasa’i dan yang lainnya dengan sanad yang shahih dari hadits Ummul Mukminin, ’Aisyah radiallahu’anhu, beliau berkata:
”Tidak pernah aku melihat seorang yang lebih menyerupai Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam, di dalam rupa, keadaan, dan tingkah laku dari pada Fatimah Karramallahu Wajhaha. Jika dia datang kepada beliau, maka beliau berdiri menyambutnya, mengambil tangannya, menciumnya dan mendudukkannya di tempat duduknya. Dan jika beliau yang datang kepadanya, maka dia berdiri menyambutnya, mengambil tangannya, menciumnya dan mendudukannya di tempat duduknya”. [9]
4.      Tidak Pilih Kasih / Bersikap Adil Dalam Memberikan Kasih Sayang
Sesungguhnya rasa cinta seseorang kepada sebagian dari anaknya yang melebihi anak lainnya adalah hal yang wajar dan tidak mengapa selama tidak menimbulkan sikap yang timpang atau zhalim kepada yang lainnya. Rasa cinta adalah sebuah tabi’at yang diberikan oleh Allah subhanahuwata’ala ke dalam hati seseorang.
Seorang anak yang shalih, rajin melakukan sholat, puasa dan selalu ebrbuat baik kepada kedua orang tua jelas lebih abik daripada seorang anak yang bodoh, selalu ebrbuat maksiat dan durhaka kepada kedua orang tua. Hanya saja tidak semestinya seorang ayah menampakkan kecintaannya kepada anak tersebut secara berlebihan kecuali dengan beberapa alasan, seperti ucapan anda keada anak yang lainnya, ”Ayah mencintainya kaerna dia rajin sholat dan puasa”. Sikap seperti itu terkadang menjadi motivasi bagi yang lain agar mengikutinya. Contoh lain adalah ungkapan Anda, ”saudaramu itu orang baik dan roang yang penuh dengan keutamaan karena ia tidak pernah menyakiti hati orang lain dan tidak pernah banyak berbicara yang tidak ada gunannya”. Etagsnya, semua ungkapan itu ditujukan sebagia motivasi bagi yang lainnya agar melakukan kebaikan seperti yang dilakukan oleh saudara mereka.[10]
Akan tetapi rasa cinta tersebut tidak boleh menjadikan orang tua berlaku dzalim kepada anak yang lainnya dengan menghilangkan hak atau dengan meremehkan mereka, bahkan rasa cinta yang berlebihan kepada seorang anak tanpa alasan akan menumbuhkan kecemburuan pada diri anak yang lainnya.
Perlakuan adil anak juga dapat digambarkan di dalam memberikan hadiah kepada anak-anak, hal ini juga dijelaskan di dalam sebuah Hadits An Nu’man bin Basyir radiallahu’anhu, beliau berkata: 
أَعْطَانِي أَبِي عَطِيَّةً فَقَالَتْ عَمْرَةُ بِنْتُ رَوَاحَةَ لَا أَرْضَى حَتَّى تُشْهِدَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي أَعْطَيْتُ ابْنِي مِنْ عَمْرَةَ بِنْتِ رَوَاحَةَ عَطِيَّةً فَأَمَرَتْنِي أَنْ أُشْهِدَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَعْطَيْتَ سَائِرَ وَلَدِكَ مِثْلَ هَذَا قَالَ لَا قَالَ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ قَالَ فَرَجَعَ فَرَدَّ عَطِيَّتَهُ
An Nu'man bin Basyir radliallahu 'anhuma berkhutbah diatas mimbar, katanya: "Bapakku memberiku sebuah hadiah (pemberian tanpa imbalan). Maka 'Amrah binti Rawahah berkata; "Aku tidak rela sampai kamu mempersaksikannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." Maka bapakku menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata: "Aku memberi anakku sebuah hadiah yang berasal dari 'Amrah binti Rawahah, namun dia memerintahkan aku agar aku mempersaksikannya kepada anda, wahai Rasulullah". Beliau bertanya: "Apakah semua anakmu kamu beri hadiah seperti ini?". Dia menjawab: "Tidak". Beliau bersabda: "Bertaqwalah kalian kepada Allah dan berbuat adillah diantara anak-anak kalian". An-Nu'man berkata: "Maka dia kembali dan Beliau menolak pemberian bapakku".[11]
Bertolak dari hal di atas orang tua yang bertakwa dan cerdas serta berbuat adil kepada semua anaknya tidak akan pernah mengutamakan salah satu dari anaknya atas anaknya yang lain, baik itu dalam memberikan uang jajan, hadiah atau dalam memberikan kasih saying kepadanya. Dengan demikian, hati mereka semua akan senantiasa terbuka untuknya dan lidahnya selalu basah memanjatkan doa bagi kedua orang tua serta akan senantiasa berbakti, menghargai dan menghormati orang tua. 
5.      Tidak Mendo’akan Kejelekan Bagi Anak
Jauhilah mendo’akan kejelekan untuk anak-anak Anda. Karena ditakutkan do’a tersebut bertepatan dengan waktu dikabulkannya do’a, sehingga do’a tersebut dikabulkan oleh Allah, dan akhirnya Anda menyesali akibat perbuatan anda.
Diriwayatkan di dalam Shohih Muslim, dalam hadits yang panjang dari Jabir Radiallahu’anhu, sesungguhnya seseorang berkata kepada untanya:
شَأْ لَعَنَكَ اللَّهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ هَذَا اللَّاعِنُ بَعِيرَهُ قَالَ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ انْزِلْ عَنْهُ فَلَا تَصْحَبْنَا بِمَلْعُونٍ لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لَا تُوَافِقُوا مِنْ اللَّهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ
Hus, semoga Allah melaknatmu. Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bertanya: "Siapa yang melaknat untanya itu?" ia menjawab: Saya, wahai Rasulullah. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Turunlah, jangan menyertai sesuatu yang terlaknat. Janganlah kalian mendoakan keburukan pada diri kalian, jangan mendoakan keburukan pada anak-anak kalian, jangan mendoakan keburukan pada harta-harta kalian. Jangan sampai kalian berdo’a, bertepatan dengan saat dimana permohonan kepada Allah dikabulkan, sehingga permohonan kalianpun dikabulkan.[12]
6.      Mewaspadai Segala Hal Yang Mempengaruhi Pembentukan Dan Pembinaan Anak
Orang tua yang bertakwa akan selalu memberikan perhatian kepada anak-anaknya baik itu dalam hal tingkah laku, aktivitas, dan hobinya, mengetahui apa yang mereka baca dan apa yang mereka tulis, juga teman-teman mereka dan kemana mereka pergi. Semua itu diketahuinya dengan tidak menjadikan anak merasa diawasi. Apabila dia mendapatkan mereka melakukan penyimpangan, baik dalam hal pendapat, pandangan maupun hobi, atau ketergantungan pada teman yang berperangai buruk, suka pergi ke tempat-tempat maksiat, mempunyai kebiasaan berbahaya seperti, merokok dan lain-lainnya, bermain-mainan yang dilarang karena bertentangan dengan akhlak seorang muslim, membuang-buang waktu dan tenaga, maka hendaknya kedua orang tua segera meluruskan penyimpangan tersebut dan mengarahkan ke jalan yang beanr dengan cara lemah lembut, bijak dan penuh kasih saying.[13]
7.      Menanamkan Akhlakul Karimah Pada Anak
Orang tua yang benar-benar sadar akan senantiasa menanamkan akhlakul karimah (akhlak terpuji) ke dalam diri anak-anaknya, berupa cinta kasih kepada orang lain, menyambug silaturahmi, membantu orang-orang lemah, menghormati orang tua, menyayangi anak kecil, jujur dalam ucapan dan perbuatan, menepati janji, adil dalam mengambil keputusan, dan lain sebagainya yang termasuk akhlak terpuji.[14]
Orang tua yang cerdas pasti akan mengetahui bagaimana menyusup ke dalam jiwa anak yang paling tersembunyi lalu menanamkan sifat-sifat mulia dan akhlak terpuji tersebut, dengan menggunakan cara yang baik dan tepat dan dengan memberikan suri teladan yang baik, bergaul dan memperlakukan dengan baik, penuh kelembutan, persamaan, keadilan serta memberikan nasihat dan bimbingan, lemah lembut tetapi tidak terlihat lemah, tegas tetapi tidak terlihat sadis. Selain itu, juga mengajarkan berdiskusi dan tukar pikiran dengan cara yang tidak menjemukan. Dengan demikian itu anak-anak akan tumbuh secara normal dengan menunjukkan kedewasaan, wawasan yang luas, pemikiran matang, shalih, berbakti, dan mampu memberikan sumbangan yang dibutuhkan, dan siap membangun kehidupannya. [15] Sehingga pendidikan yang diberikan oleh kedua orang tua itu akan menghasilkan buah yang manis. Karena sesungguhnya kedua orang tua adalah madrasah (sekolah) pertama dalam pendidikan bangsa, dan dia adalah guru pertama bagi generasi-generasi cerdas.



[1] Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jaza’iri, Minhajul Muslim, (Jakarta: Darul Hak, 2006). h. 128
[2] Muhammad Ali Al Hasyimi, Op Cit., h. 200
[3] Maksudnya adalah seakan-akan seseorang telah mendorongnya. Hal ini karena ada sesuatu yang mendorongnya.
[4] HR. Muslim (no. 2017)
[5] Muhammad Ali Al Hasyimi, Op Cit., h. 205
[6] HR. Muslim
[7] Mutafaq Alaih
[8] Mushthofa al-‘Adawi, Ensiklopedi Pendidikan Anak, Pustaka Al Inabah, Bogor, h. 217
[9] HR. Abu Dawud (no. 5217), at-Tirmidzi (no. 3872) dan an-Nasa-I (Fadhaailush Shahaabah 264)
[10] Mushthofa al-‘Adawi, Op.Cit,  h. 192
[11] HR.  Bukhori (no. 2587) dan Muslim (no. 1623)
[12] HR. Muslim (no. 3009)
[13] Muhammad Ali Al Hasyimi, Op Cit., h. 212
[14] Ibid., h. 213
[15] Ibid., h. 214.
Selengkapnya…


Pertumbuhan dan Perkembangan Anak (Bag. Pembahasan Point C)

| View Comments |
|

Pendidikan keluarga adalah pendidikan yang pertama kali di tempuh oleh seroang anak, oleh karena itu pada masa inilah masa pembekalan bagi pribadi anak sehingga nantinya dapat lebih mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan pendidikan yang lain.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh orang tua yang sekaligus sebagai pendidik bagi anak mengenai perkembangan anaknya baik itu perkembangan fisik, emosi, bahasa, kognitif, sosial dan yang lainnya, yang dengan memahami perkembangan tersebut diharapkan nantiny`a dapat memberikan gambaran kepada orang tua untuk memberikan pendidikan yang sesuai dengan karakteristik perkembangan anak ada masa itu. Berikut ini penulis jabarkan mengenai perkembangan anak di usia pra sekolah (formal):

1.      Perkembangan Fisik
 Anak-anak usia tiga, empat dan lima tahun penuh tenaga dan tak henti-hentinya bergerak. Waktu bertumbuh, mereka mengembangkan dan memperhalus ketrampilan gerak motorik kasar dan halus. Anak-anak usia tiga tahun mengalami banyak pertumbuhan di bidang perkembangan fisik tatkala mereka mengupayakan keselarasan gerak setiap hari. Lari, lompat dan panjat menjadi semakin otomatis dan bukan merupakan tindakan yang sadar atau bertujuan. Anak usia tiga tahun masih sedikit bertatih-tatih dan sering jatuh dan bagun lagii dan mencoba lagi. Sedangkan gerak-gerak tubuh anak-anak usia empat dan lima tahun sering menjadi lebih serasi. Anak-anak usia empat dan lima tahun bisa berlari mulus dan berhenti dengan mudah. Mereka juga suka melompat dengan satu kaki dan melompat dengan dua kaki sekaligus. Mereka mulai melontar bola agak gampang dan menggunakan tangan untuk menangkap, sering meleset. Anak-anak usia ini mulai mengembangkan keseimbangan dan rasa keseimbangan mereka. Mereka menikmati naik sepeda tiga roda, mendorong dan menarik gerobak, dan lari cepat berkeliling di sekitar kereta dorong kecil.[1]
2.      Perkembangan Emosi
Anak-anak usia tiga, empat, dan lima tahun mengungkapkan sederetan emosi dan mampu menggunakan secara serasi ungkapan seperti sedih, bahagia, dan sudah bisa membedakan perasaan-perasaan mereka. Dalam tahun prasekolah ini, situasi emosi anak-anak sangat bergantung keadaan dan bisa berubah secepat mereka beralih dari kegiatan satu ke kegiatan lain. Karena anak-anak berkembang dari tahun ke tahun ada peningkatan internalisasi dan pengaturan terhadap emosi mereka. Anak usia pra sekolah (3-5 tahun) mulai mencapai ketrampilan-ketrampilan kognitif dan bahasa yang baru, mereka belajar untuk mengatur emosi-emosi mereka dan menggunakan bahasa untuk mengungkapkan bagaimana perasaan mereka dan perasaan orang lain.
Gejolak perasaan anak-anak usia tiga, empat, dan limat tahun sebagian ebsar ada di permukaan, gejolak perasaan mereka sangat berhubungan dengan peristiwa-peristiwa dan perasaan yang terjadi pada saat itu.[2]
Jika mereka merasakan sesuatu, mereka ungkapkan itu, jika mereka inginkan sesuatu, mereka usahakan mengambilnya. Menunda keseanngan dan mengendalikan perasaan hati sering merupakan tantangan. Keingintahuan mereka yang alami sering menimbulkan masalah. Anak-anak usia empat tahun sering lebih banyak menggunakan sarana fisik guna menyelesaikan konflik ketimbang pakai kata-kata untuk merundingkan kebuthan mereka. Mengajarkan kepada anak-anak tentang cara yang sesuai untuk mengungkapkan emosi mereka merupakan tonggak epnting dalam perkembangan mereka. Konflik yang timbul dari kebutuhan dua anak yang memperebutkan satu benda, itu wajar, anak-anak sedang belajar cara memecahkan konflik lewat cara yang bisa diterima lingkungan sosial. [3]
3.      Perkembangan Bahasa
Bagi anak usia para sekolah antara 3-5 tahun tibalah masa pertumbuhan dahsyat di bidang bahasa, perbendaharaan kata meluas adn struktur semantik dan sintaksis bahasa mereka menjadi semakin rumit. Perubahan dalam hal bahasa ini mewakili perkembangan kemampuan kognitif. Anak-anak menjadi pemikir yang lebih rumit dan, sejalan dengan pertumbuhan mereka, perubahan ini tercermin pada bahasa mereka. Anak-anak usia tiga tahun emiliki sekitar 900 sampai 1000 kata dan sekitar 90% dari apa yang mereka ucapkan dapat dipahami. Dengan mudah mereka bisa memproduksi kalimat tiga kata. Bahasa menjadi meksnisme utama dalam membuat kebutuhan, perasaan, dan pikiran mereka diketahui orang lain. Anak usia tiga tahun muali mengerti dan merespon banyak pertanyaan, seperti “Kau buat apa?” dan “Kenapa kaulakukan itu?”. Anak usia ini juga mulai mengajukan banyak sekali pertanyaan. [4]
Penguasaan bahasa anak-anak semakin lama semakin berkembang, pada anak usia lima tahun berkembang terus, dan perbendaharaan kata-kata mereka meluas sampai 5.000 – 8.000 kata. Jumlah kata dalam kalimat bertambah, dan struktur kalimat menjadi lebih rumit. Anak-anak usia 5 tahun juga senang bicara. Mereka juga belajar kebiasaan bercakap-cakap dan agak jarang memotong percakapan, belajar antri, danmendengarkan orang lain yang sedang bicara. Bukan tidak biasa bagi anak-anak usia ini untuk belajar kata-kata sulit yang terkait denga hal-hal yang mereka minati.[5]
4.      Perkembangan Kognitif
Salah satu perubahan kognitif penting di tahun-tahun pra sekolah terajdi antara anak-anak usia tiga ke empat tahun adalah perkembangan pikiran simbolik. Pikiran simbolik adalah kemampuan menghadirkan secara mental atau simbolis objek, konkret, tindakan, dan peristiwa (Piaget, 1952). Tanda paling nyata dari perkembangan pikiran simbolis pada anak-anak usia empat thaun ialah perambahan yang signifikan dalam penggunakan mereka akan permainan khayalan. 
Anak-anak usia tiga tahun memiliki  daya ingat yang baik atas barang-barang di dalam pengalaman langsung mereka. Bagaimanapun, merkea belum mengembangkan strategi efektif yuntuk mengingat informasi dalam jangka waktu lebih lama. Oleh karena itu, struktur dan rutinitas penting bagi kehidupan anak usia ini. Struktur dan rutinitas ini memungkinkan mereka untuk mengantisipasi dan meramal apa yang akan mereka lakukan dan apa yang diharapkan dari mereka. Sedangkan pada anak usia empat tahun mereka mulai mengembangkan kemampuan ingatan mereka. Mereka bisa secara mendadak ingat apa yang mereka lakukan pada akhir pekan lalu, mereka mulai mengembangkan makna tentang apa yang nyata dan apa yang tidak nyata. Dan ketika anak berusia 5 tahun mereka mulai tumbuh dengan cara berfikir secara egosentris, mereka mulai sadar akan perasaan dan sudut pandang orang lain. Pada usia ini, anak-anak bisa mulai mengerti bahwa mereka bisa bahagia bila orang lain tidak bahagia dan mulai menerima bahwa orang lain tidak harus melakukan permainan tepat seperti permainan yang sedang mereka lakukan, mereka mulai mengerti kesukaan dan ketidaksukaan anak-anak lain.[6]
5.      Perkembangan Sosial
Wakau anak-anak usia tiga, empat dan lima tahun bertumbuh, mereka semakin menjadi makhluk sosial. Pada usia tiga tahun, perkembangan fisik anak-anak emungkinkan mereka untuk bergerak kian kemari secara mandiri dan mereka ingin tahu tentang lingkungan mereka dan orang-orang di dalamnya. Ketramplan kognitif berkembang dan anak-anak mampu mengetahui orang-orang yang akrab dan rang yang tidak akrab.
Anak-anak usia tiga tahun memperlihatkan minat yang semakin ebsar terahdap anak-anak lain dan orang-orang dewasa, tetapi sering lebih senang berada bersama orang dewasa atau bermain sendiri di dekat anak-anak lain. Anak-anak usia empat dan lima tahun sedang menjadi mkhluk sosial dan sering lebih suka ditemani anak-anak lain daripada ditemani orang dewasa, anak-anak mulai mengungkapkan kesukaan mereka untuk bermaind engan beberapa ank lebih dari pada dengan anak-anak lain. Bermain dan ada bersama aspek penting dari perkembangan sosial bagi anak-anak usia empat dan lima tahun. Hubungan sosial bisa mempengaruhi perkembangan kognitif dan emosi anak-anak. Anak yang ditolak secara sosial akan menjadi anak yang tidak bahagia. Menolong anak-anak supaya rukun satu sama lain akan memajukan sikap positif dan menanamkan rasa cinta belajar pada anak-anak.[7]



[1] Carol Seefeldt & Barbara A. Wasik. Pendidikan Anak Usia Dini (Jakarta: PT Indeks, 2008), h. 65
[2] Ibid., h. 69
[3] Ibid., h. 70
[4] Ibid., hal 73
[5] Ibid., hal 76
[6] Ibid., hal 81
[7] Ibid., hal 86

.
Selengkapnya…


Tujuan Pembentukan Keluarga (bag. Pembahasan Point B)

| View Comments |
|

Rumah keluarga muslim adalah benteng utama tempat anak-anak dibesarkan melalui pendidikan Islam. Yang dimaksud dengan keluarga muslim adalah keluarga yang mendasarkan aktivitasnya pada pembentukan keluarga yang sesuai dengan syariat Islam. Berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah, kita dapat mengatakan bahwa tujuan terpenting dari pembentukan keluarga adalah hal-hal berikut:

1.      Mendirikan syariat Allah dalam segela permasalahan rumah tangga. Artinya, tujuan berkeluarga adalah mendirikan rumah tangga muslim yang mendaasrkan kehidupannya pada perwujudan penghambaan kepada Allah.
2.      Mewujudkan ketentraman dan ketenangan psikologis, jika suami istri bersatu di atas landasan kasih sayang dan ketentraman psikologis yang interaktif, anak-anak akan tumbuh dalam suasana bahagia, percaya diri, tentram, kasih sayang, serta jauh dari kekacauan, kesulitan, dan penyakit batin yang melemahkan kepribadian anak.
3.      Mewujudkan Sunnah Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam dengan melahirkan anak-anak yang sholeh.
4.      Memenuhi kebutuhan cinta kasih anak-anak, naluri menyayangi anak erupakan potensi yang diciptakan rasa dengan penciptaan manusia dan binatang. Allah menjadikan naluri itu sebagai salah satu landasan kehidupan alamiah, psikologis, dan sosial mayoritas makhluk hidup.[1]
Dalam hal ini Rasulullah shalallahu’alaiwasallam adalah figur pecinta anak yang ideal. Berikut ini adalah salah satu gambaran tentang kasih sayang Rasulullah shallahu’alaihiwasallam kepada anak-anak, diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim, dari hadtis al Bara’ bin ’Azib radiallahu’anhuma,  beliau berkata:
رایت النبی صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ والحسن بن علی علی عا تقھ یقول : اللھم انی احبھ فا حبھ
”Aku melihat Nabi shallahu’alaihiwasallam, sedangkan Hasan bin ’Ali ada dipundaknya, beliau berkata, Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah ia!”[2]
5.      Menjaga fitrah anak agar anak tidak melakukan penyimpangan-penyimpangan



[1] Abdurrahman An Nahlawi. Pendidikan Islam di Rumah Sekolah dan Masyarakat. (Jakarta: Gema Insani, 2004), h. 140
[2] HR. Al Bukhari (no. 3749) dan Muslim (no. 2422)


 .
Selengkapnya…


Pengertian Pendidikan Informal (bag. Pembahasan Point A)

| View Comments |
|

Pendidikan Informal pada awalnya dikenalkan Malcolm Knowles (1950), pendidikan informal didefinisikan sebagai sebuah pendidikan yang tidak di dilakukan pada suatu institusi belajar, pendidikan ini bersifat pengalaman, dan tidak sepenuhnya terprogram, pendidikan ini berjalan secara spontan (Marsick & Volpe, 1999).

Pendidikan Informal juga didefinisikan sebagai pendidikan bahwa pembelajaran informal dicapai melalui pemodelan sosial (Bandura 1986). Definisi lain dari pembelajaran informal oleh Marsick dan Volpe (1999) mengemukakan bahwa pendidikan informal terjadi akibat adanya pengaruh internat atau eksternal, yang terjadi secara tidak teratur, dan terjadi melalui tindakan dan refleksi. [1]
Dari beberapa definisi yang penulis dapatkan di atas dapat penulis simpulkan bahwa pendidikan informal merupakan pendidikan yang bersifat pengalaman yang terjadi dengan adanya pengaruh internal dan eksternal, dilakukan secara langsung (spontan), dan pendidikan ini tidak sepenuhnya terprogram.



[1]Journal of Industrial Teacher Education (Informal Learning: An Exploratory Study of Unstructured Learning Experiences of T&I Teachers Enrolled In an Alternative Teacher Teacher Education Program) & (Learning Strategy Patterns and Instructional Preferencesof Career and Technical Education Students)


 .
Selengkapnya…


Pendidikan Informal Tahapan Pendidikan Yang Menjadi Gerbang Dan Benteng Bagi Kehidupan Seorang Anak (Bag. Pendahuluan)

| View Comments | Rabu, 19 September 2012
|

Karya Tulis Ilmiah ini saya buat ketika mengikuti mata kulia Kapita Selekta Pendidikan ketika Semester V dahulu.

KARYA TULIS ILMIAH
PENDIDIKAN INFORMAL (Tahapan Pendidikan Yang Menjadi Gerbang Dan Benteng Bagi Kehidupan Seorang Anak)
Postingan kali ini baru Latar Belakangnya Tok yang tak Posting, InsyaAllah selanjutnya menyusul.

BAB I PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang
Tidak diragukan lagi bawa anak merupakan penyejuk pandangan mata, sumber kebahagiaan, dan belahan hati manusia dalam kehidupan ini. Keberadaan mereka menjadi kehidupan ini terasa manis, menyenangkan, mudah mendapatkan rezeki, terwujud semua harapan, dan hati pun menjadi tenang. Di mata sorang bapak, anak akan menjadi penolong, penunjang, pemberi semangat dan penambah kekuatan. Seorang ibu melihat anak sebagai harapan hidup, penyejuk jiwa, penghibur hati, pada pendidikan yang diberikan kepada mereka, juga pada pembentukan diri dan penggodokan mereka menghadapi kehidupan ini. Dimana mereka menjadi unsur produktif yang dan aktif, yang kebaikan mereka akan kembali kepada orang tua, dan masyarakat pada umumnya.
Sehingga mereka akan dapat menjadi seperti yang difirmankan Oleh Allah subhanahuwata’ala di dalam Alqur’an (Al Kahfi: 46).

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia .. [1]

Tidak dapat disangkal lagi bahwa pendidikan di dalam rumah merupakan pendidikan yang diberikan kepada anak yang mayoritas atau sebagian besar diberikan oleh seorang ibu, yang demikian itu karena meraka lebih dekat dengan ibu dan lebih banyak berada di sisinya, disamping seorang ibu lebih mengenal keadaan dan perkembangan mereka pada masa-masa pertumbuhan dan puber yang merupakan masa paling berbahaya bagi kehidupan mental, jiwa dan tingkahalaku anak. [2]
Akan tetapi pertumbuhan dan perkembangan seorang anak juga tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab seorang ayah, oleh karena itu kedua orang tua bagi seorang anak merupakan pendidik pertama mereka yang akan memberikan pengajaran di madrasah mereka yang pertama (rumah) guna sebagai bekal bagi kehidupan bagi seorang anak.
Di dalam Al Qur’an juga dijelaskan mengenai tanggung jawab bagi orang tua untuk menjaga diri-diri mereka dan keluarga mereka dari api neraka, yang itu berarti orang tua memiliki tanggung jawab yang besar dalam hal pendidikan bagi seorang anak. Di dalam Al Qur’an di jelaskan:
6. Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.[3]
Sedangkan Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam mengungkapkan mengenai hal serupa di dalam sabdanya:
"Setiap kalian adalah pemimpin. Dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang Amir adalah pemimpin. Seorang suami juga pemimpin atas keluarganya. Seorang wanita juga pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya. Maka setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya."[4]
Oleh karena itulah, penulis tertarik untuk mempelajari dan menjadikannya sebagai buah karya, yang di dalamnya akan mengungkap beberapa poin mengenai pendidikan yang diberikan oleh orang tua di rumah mereka atau yang sering disebut orang dengan sebutan Pendidikan Informal, karena menurut penulis pendidikan bagi seorang anak merupakan suatu hal yang sangat penting untuk dicermati, sehingga nantinya tidak akan terjadi hal-hal yang buruk seperti kekerasan di dalam rumah tangga ataupun yang lainnya, karena ketika kita sudah memahami apa hak-hak yang seharusnya diberikan oleh orang tua kepada anaknya maka hal tersebut insyaAllah akan dapat memberikan batasan-batasan dan panduan untuk mendidik anak.
A.     Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas penulis dapat mengambil rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apa pengertian pendidikan informal?
2.      Apa tujuan pembentukan sebuah keluarga muslim?
3.      Seperti apa Pertumbuhan dan Perkembangan Anak di masa pra sekolah?
4.      Apa saja hal-hal yang harus diperhatikan dalam mendidik seorang anak?
B.     Tujuan dan Manfaat
1.      Tujuan
Tujuan penulis menyusun Karya Tulis Ilmiah  ini adalah:
a.       Untuk mengetahuai apa pengertian pendidikan informal
b.      Untuk mengetahui tujuan pembentukan sebuah keluarga muslim
c.       Untuk mengetahui seperti apa pertumbuhan dan perkembangan anak di masa pra sekolah
d.      Untuk memahami apa saja hal-hal yang harus diperhatikan dalam mendidik seorang anak
2.      Manfaat
Adapun manfaat dari penulisan Karya Tulis ini adalah dengan mempelajari mengenai pendidikan informal hal ini dapat memberikan penambahan wawasan bagi penulis mengenai hal-hal yang penting di dalam mendidik seorang anak di dalam rumah mereka, terutama pendidikan dengan pendekatan secara Islami, menurut penulis hal tersebut sangat menarik untuk dipelajari karena pendidikan informal merupakan gerbang bagi seorang anak untuk menempuh pendidikan dan kehidupan yang labih lanjut.



[1] QS. Al Kahfi 18: 46
[2] Muhammad Ali Al Hasyimi, Jati Diri Wania Muslimah (Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 2006), h. 200
[3] QS. At Tahrim 66: 6
[4] HR. Bukhori No. 4801
Semoga Bermanfaat ...
2
Selengkapnya…


Mau Berlangganan Artikel Gratis dari Data File Com?

Tulis Email Anda disini:

Setelah Menekan Berlangganan, Kami Membutuhkan Verifikasi dari Email Anda, Agar Kami Bisa Mengirimkan Postingan Terbaru kami ke Email Anda, Jadi silahkan Cek Inbox Email anda setelah mendaftar, dan Klik Link Verifikasi

By Admin

 
..:A:..
Akhi Abdul
Agha'ku
Pak Haris Setiadji
anggasona-anotherbestblog
..:B:..
Blog_Vaganza
Blog Junaidi
...
..:C:..
...
..:D:..
...
..:E:..
E-One S
...
..:F:..
...
..:G:..
...
..:H:..
...
..:I:..
Imanq
Insurance Finance
...
..:J:..
...
..:K:..
KELPOLOVA
KETEP PASS
...
..:L:..
...
..:M:..
...
..:N:..
Nanie Granger
n66ee
...
..:O:..
...
..:P:..
...
..:Q:..
...
..:R:..
...
..:S:..
STAIN Metro
...
..:T:..
...
..:U:..
Urang Lembur
...
..:V:..
...
..:W:..
Wong Ganteng
...
..:X:..
...
..:Y:..
...
..:Z:..
...
Salam Hangat dariku
::| DFC |::
::|Admin|::

Page Rank
 
Back To Top