Tampilkan postingan dengan label Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Tampilkan semua postingan

MBS Untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan

| View Comments | Senin, 03 Oktober 2011
|

A. Perlunya Pendidikan Berkualitas

Kualitas memiliki dua konsep yang berbeda antara konsep absolute dan relative. Dalam konsep absolut sesuatu (barang) disebut berkualitas bila memenuhi standar tertinggi dan sempurna. Artinya, barang tersebut sudah tidak ada yang melebihi. Dalam konsep ini kualitas mirip dengan suatu kebaikan, kecantikan, kepercayaan yang ideal tanpa ada kompromi. Kualitas dalam makna absolut adalah yang terbaik, tercantik, terpercaya. Bila dipraktikkan dalam dunia pendidikan konsep kualitas absolut ini bersifat elitis karena hanya sedikit lembaga pendidikan yang akan mampu menawarkan kualitas tinggi kepada peserta didik dan hanya sedikit siswa yang akan mampu membayarnya.



Dalam konsep relatif, kualtias bukan merupakan atribut dari produk atau jasa. Sesuatu dianggap berkualitas jika barang atau jasa memenhii spesifikasi yang ditetapkan. Oleh karena itu, kualtias bukanlah merupakan tujuan akhir, melainkan sebagai alat ukur atas produk akhir dari standar yang ditentukan.

Dalam konsep relatif produk yang berkualitas adalah yang sesuai dengan tujuannya (fit for their purpose). Definisi kualitas dalam konsep relatif memiliki dua aspek, yaitu dilihat dari sudut pandangn produsen maka kualitas adalah mengukur berdasarkan spesifikasi yang ditetapkan dan dari sudut pandang pelanggan maka kualitas untuk memenuhi tuntutan pelanggan.

Pada umumnya kualitas memiliki elemen-elemen sebagai berikut: pertama, meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan. Kedua, mencangkup produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan. Ketiga. Merupakan kondisi yang selalu berubah. Berdasarkan elemen-elemen tersebut maka kualitas dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan priduk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi bahkan melebihi harapan..

Kualitas juga memiliki banyak dimensi, yaitu pertama, karakteristik kinerja operasional pokok dari produk inti, kedua karakteristik tambahan, ketiga, keadaan, yaitu kecil kemungkinan untuk rusak atau gagal pakai, keempat, kesesuaian dengan spesifikasi yang ditetapkan, kelima, daya tahan, yaitu berapa lama produk tersebut dapat terus digunakan, keenam, keterlayanan yang meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan atua penanganan keluhan yang memuaskan, ketujuh, estetika, yaitu daya tarik produk terhadap pancaindra, dan kedelapan, citra kualitas produk yang menyangkut antara lain tanggung jawab terhadap produk atau jasa yang diberikan.

Definisi tentang kualitas selalu terkait dengan produk. Yang menjadi pertanyana selanjutnya adalah apakah produk pendidikan itu? Pertanyaan itu penting untuk diajukan karena untuk mengetahui pendidikan itu berkualtias atau tidak maka kita perlu tahu produk pendidikan itu sendiri? Pendidikan itu adalah jasa atau pelayanan (service) dan bukan produksi barang. Pemahaman karakteristik kualtias jasa lebih sulit untuk didefinisikan daripada kualtias produk fisik.

Untuk itulah, perlu kita pahami beberapa perbedaan produksi jasa dan produksi barang. Terdapat enam macam perbedaan jasa pelayuanan dibandingkan denganproduksi barang.

Pertama, jasa pelayanan biasanya terjadi kontak langsung antara penyedia jasa dengan pengguna akhir, maka kualitas jasa bergantung pada orang yang memberikan pelayanan dan orang yang menerima pelayanan.

Kedua, jasa harus diberikan secara tepat waktu karena pelayanan dikonsumsi secara langsung pada saat jasa itu diberikan. Kontrol kualtias jasa dilakukan sebelum dan selama jasa tersebut diberikan. Adanya kontak langsung tersebut memungkinkan adanya evaluasi dan feedback yang merupakan sarana utama untuk mengukur kepuasan pelanggan.

Ketiga, jasa pelayanan tak dapat ditambal sulam atau diperbaiki. Oleh karena itu, penting sekali untuk ditetapkan standar pelayanan dari tahap awal. Selain itu, dalam memberikan pelayanan memungkinkan untuk terjadinya kesalahan manusia.

Keempat, jasa pelayanan berkaitan dengan masalah-masalah yang tidak kelihatan sehingga sulit sekali untuk menggambarkan seperti apa keinginan pelanggan. Dalam jasa pelayanan lebih banyak menyangkut proses daripada hasil akhirnya.

Kelima, jasa pelayanan biasanya diberikan secara langsung kepad apelanaggan oleh pengawai yunior, sedangkan pegawai senior berada jauh dari pelanggan. Oleh karena itu, pegawai yunior terutama yang digarda depan (front line) harus dimotivasi untuk selalu memberikan pelayanan terbaiknya.

Keenam, sangat sulit untuk mengukur keberhasilan output dan produksivitas jasa pelayanan. Satu-satunya indikator kinerja jasa pelayanan adalah kepuasan pelanggan. Dalam hal ini ukuran-ukuran yang tidak tampak merupkan faktor kesuksesan yang penting seperti perhatian, kesopanan keramahtamahan, dan pemberian bantuan.

Karena satu-satunya indikator kinerja jasa pelayanan adalah kepuasan pelanggan, kinerja kualtias pendidikan dapat diukur dari tingkat kepuasan pelanggan. Yang menjadi pertanyaan adalah siapakah sebenarnya pelanggan pendidikan itu?

Pelanggan pendidikan ada dua aspek, yaitu pelanggan internal dan eksternal. Pelanggan internal adalah kepala sekolah, guru, dan staf kependidikan lainnya. Pelanggan eksternal ada tiga kelompok, yaitu pelanggan eksternal primer, pelanggan sekunderm, dan pelanggan tersier. Pelanggan eksternal eksternal primer adalah peserta didik. Pelanggan eksternal sekunder adalah orang tua dan para pemimpin pemerintahan. Pelanggan eksternal tersier adalah pasar kerja, pemerintah, dan masyarakat luas.

Dalam konsep relatif kualitas pendidikan biasanya diukur dari sisi pelanggannya baik pelanggan internal maupun eksternal. Namun, berdasarkan perkembangan paradigma baru pendidikan, kualtias pendidikan seharusnya juga diukur dari sisi pelanggan internal yang tak lain adalha kepala sekolah, guru, tenaga kepdndidikan lain hingga pegawai tata usaha sekalipun.

Ada suatu pendapat yang memfokuskan pada pealnggan eksternal primer, yaitu peserta didikk bahwa pendidikan berkualtias adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik menjadi: pertama, pembelajaran sepanjang hayat, kedua, komunitkaotr yang baik dalam bahasa nasional dan itnernasional, ketiga, berketrampilan teknologi untuk lalapangan kerja dankehidupan sehari-hari, keempat, siap secara kognitif untuk pekerjaan yang kompleks, pemecahan masalah dan penciptaan pengetahuan, kelima, menjadi warga negara yang bertanggung jawab secara sosial, politik, dan budaya.

Dari sudut pandangn internal tentu saja pendidikan berkualtias adalah yang memungkinkan tenaga pengajar dan staf lainnya mampu berkembang baik secara fisik maupun psikis. Berkembang secara fisik antara lain mendapatkan imbalan finansial dan kesejahteraan hidup secar alayak, sedangkan perkembangn secara psikis adalah bila mereka diberi kesempatan untuk teurs belajar dan mengembangkan kemampuan, bakat, dan kreativitasnya. Tenaga pengajar dan staf juga akan merasa puas bila suasana kerja atau budaya kerja disekolah mendukung.

Bagaimana dengan kualitas pendidikan bila diukur dari pelanggan eksternal sekunder dan tersier? Bagi mereka tentu saja pendidikan berkualtias adalah bila hasil pendidikan memberikan sumbangan positif kepada orang tua, para pemimpin pemerintah, pasar kerja, pemerintah, industri, dan masyarakat luas. Seperti apa bentuk riilnya? Misalnya lulusan sekolah tertentu siap untuk menerima tugas-tugas pekerjaan di perusahaan atau instansi pemerintah walaupun masih perlu sedikit bimbingan. Bagi masyarakat luas pendidikan dikatakan berkualitas bila lulusannya tidak menimbulkan keributan seperti tawuran atau perkelahian massal. Bagi para pemimpin dan pemerintah maka pendidikan berkualitas adalah bial lulusan epndidikan mampu memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan rakyat, dan keadilan sosial.

Bagaimana dengan kualitas pendidikan di Indonesia bila dilihat dari sisi pelanggan internal, eksternal primer, eksternal sekunder, dan eksternal tersier? Penulis berpendapat bahwa dari berbagai sisi ukuran kualtias tersebut, kualtias pendidikan di Indonesia masih dipertanyakan.

Dari sisi pelanggan eksternal primer, yaitu siswa maka kualitas pendidikan kita jgua masih rendah. Liat saja perbandingan prestasi akademik siswa-siswa kita berdasarkan standar internasional, yang selalu berada di deretan bawah. Apalagi bila ukurannya untuk menajdi warga negara yang bertanggung jawab secara sosial, politik, dan budaya seperti dikemukakan Hallinger. Banyak lulusan sekolah atau perguruan tinggi terkenal dengan prestasi akadmeik yang baik, tetapi ketika menjadi pejabat publik atau penguasaha mereka tidak menunjukkan adanya tanggung jawab moral. Buktinya saat ini banyak mantan pejabat terjerat masalah korupsi, kolusi, dan nepotisme. Banyak pula penguasaha yang menggelapkan uang rakyat atau menilep dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

Untuk mencapai pendidikan yang berkualtias di negeri ini menghadapi banyak kendala: pertama, akuntabiltias dalam penyelenggaraan pendidikan kepada masyarakat masih sangat rendah karena terlalu kuatnya dominasi pemerintah pusat dalam manajemen mikro penyelenggaraan pendidikan. Kedua, penggunaan sumber daya tidak optimal dan tidak efisien dikarenakan rendahnya anggaran pendidikan dan sistem pengelolaan anggaran yang terpusat. Ketiga, partisipasi masyarakat yang masih rendah padahal secara historis peran serta masyarakat dalam pembangunan pendidikan di Indonesia sangat besar. Keempat, sekolah tidak mampu mengikuti perubahan yang terjadi di lingkungannya, speerti perubahan politik, ekonomi, sosial, budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi yang terjadi dengan cepat.

B. Kualtias Pendidikan yang direncanakan

Pendidikan adalah jasa sehingga kontrol sebelum pelayanan diberikan kepada pengguna akhir harus menjadi perhatian utama. Untuk menghasilkan pendidikan berkualtias maka program pendidikan harus dipersiapkan secara baik. Oleh karena itu, sistem pendidikan ktia harus direformasi secara besar-besaran baik dari perencanana, pelaksanaan, penilaian dan lain-lain.

Terdapat beberapa kondisi yang diperlukan untuk suksesnya perencanaan pendidikan, yaitu (1) adanya komitmen politik padaperencanaan pendidikan, (2) perencanaan pendidikan harus tahu betul apa yang menjadi hak, tugas dan tanggung jawabnya, (3) harus ada perbedaan yang tegas, antara area politis, teknis, dan administratif pada perencanaan pendidikan, (4) perhatian lebih besar diberikan pada penyebaran kekuasaan untuk membuat keputusan politis dan teknis, (5) perhatian lebih ebsar ddiberikan pada pengembangan kebijakan dan prioritas pendidikan yang terarah, (6) tugas utama prencanaan pendidikan adalah pengembangan secara terarah dan memberikan alternatif teknis sebagai sarana untuk mencapai tujuan politi pendidikan, (7) harus mengurangi politisasi pengetahuan, (8) harus berusaha lebih ebsar untuk mengetahui opini publik terhadap perkembangan masa depan dan arah pendidikan, (9) administrator pendidikan harus lebih aktif mendorong perubahan-perubahan dalam perencanaan pendidikan, dan (10) ketika pemerintah tidak menguasai lagi semua aspek pendidikan maka harus lebih diupayakan kerja sama yang saling menguntungkan antara pemerintah-swasta-universitas yang memegang otoritas pendidikan.

Selain itu, terdapat dua strategi penting dalam perencanaan pendidikan, yaitu (1) Penetapan target, dan (2) penetapan prioritas. Menyangikut strategi kedua ini terdapat nema area kiritas yang harus dipertimbangkan, yaitu pilian antara tingkat pendidikan, pilihan antara kuantitas dan kualitas, pilihan antara ilu pengetahuan dan teknologi dengan pengetahuan budaya, pilihan antara pendidikan formal dan pelatihan nonformal, pilihan tetang insentif serta piliahn tetang tujuan pendidikan.

Memeprhatikan pembuatan program pendidikan yang berkualitas, kondisi-kondisi yang mendukung suksesnya perencaqnaan pendidikan dan strategi-strategi penting dlaam perencanaan pendidikan maka perlu disusun langkah-langkah perencanaan pendidikan. Langkah-langkah proses perencanaan pendidikan di Lingkungan Depdiksnas biasa disebut siklus Perencanaan. Langkah-langkah tersebut adalah kegiatan analisis keadaan sekarang, perkiraan keadaan yang akan datang, perumusan tujuan yang akan diapai, analisis dan diagnosis, pengembangan alternatif, proses pengambilan keputusan penentuan kebijakan, penentuan program dan prioritas perhitungan anggaran, perumusan rencana, penyusunan rincian rencana, melaksanakan rencana, evaluasi rencana dan revisi rencana.

Program pendidikan yang berkualtias harus menarik atau atraktif bagi siswa, orang tua, masyarakat lokal atau sponsor, pemodal potensial dan orang-orang yang menjalankan program itu sendiri seperti pengajar, administrator dan stafnya. Untuk menjadi atraktif maka program pendidikan harus responsif terhadap kebutuhan dan ketertarikan populasi khusus sat itu atau calon siswa.

Program pendidikan yang berkualtias juga harus bermanfaat karena programpendidikan bisa saja atraktif, tetapi tidak berkualtias tinggi bila mengabaikan pentingnya masalah, kebutuhan dan perhatian masyarakat dimana lembaga pendidikan itu ebrada. Program pendidikan akan berkualitas tinggi bila bermanfaat bagi siswa, guru atau pengajar dan staf serta masyarkaat di luar sekolah/

P[rogram pendidikan yang berkualtias harus kongruen dalam arti terdapat kesesuaian antara yang ditawarkan dengan kenyataannya. Pengalamna belajar akan berkualtias bila materi yang diberikan sesuai dengan yang dijanjikan lembaga pendidikan itu sebelumnya dan nilai-nilai yang diekspresikan sesuai dengan gaya belajar individual dan keputusan institusional.

Program pendidikan yang berkualtias harus efektif. Program pendidikan akan berkualtias bila harsil belajar yang dimaksud telah didefinsiikan secara jelas dan pencapiaan belajar didokumentasikan serta dikomunikasikan secara persuasif. Oleh karnea itu, perlu adanya evaluasi untuk mengetahui hasil yang diharapkan sudah terapati atau belum. Jadi, perencanaan akadmeik tidak hanya sekedar pada desainnya, tetapi juga pada implementasi dan evaluasinya.

Program pendidikan yang berkualtias juga harus fungsional dalam arti memiliki kebebasan belajar dan memfokuskan pada pengalaman belajar yang akan mempersiapkan dan membantu peserta didik untuk berkembang. Selain itu, juga membantu peserta didik untuk mengembangkan intelektualitas, personal atau kepribadian, pekerjaan atau keterampilan khusus, etika dan sikap yang akan bermanfaat dalam kehidupan dan masyarakat mendatang yang kompleks dan berubah-ubah.

Program pendidikan yang berkualtias harus terus tumbuh dalam arti meneydiakan berabgai cara untuk mengukur kebutuyan peserta didik. Juga membantu siswa untuk tumbuh dan berkembang tingkat kematangannya dengan cara-cara yang memuaskan. Perkembangan yang diperhatikan adalah kognitif, afektif, etika, moral, sosial, fisik dan dimensi-dimensi intrapersonal.

Selain itu, program pendidikan yang berkualtias juga harus menunjukakn dua aspek pengaruh yatiu tingkat penetrasi dan penyebaran pengaruhnya. Pada program pendidikan yang berkualtias maka tingkat penetrasinya (dept of impact) harus mencakup tiga tahapan kurikulum, yaitu yang tertera pada katalog atau buletin, yang diajarkan oleh pengajar dan yang dipelajari oleh siswa.

Program pendidikan yang berkualtias juga harus memiliki sebaran pengaruh (breath of impact) yang berarti suatu program pendidikan tertentu akan menyambung dengan program pendidikan yang lain sehingga memerlukan kerja sama dengna program-program pendidikan yang lain dalam suatu institusi pendidikan secara lebih luas. Istilah lain terhadap hal ini adlaah pendidikan yang berkualtias hendaknya memiliki keberlanjutan (sustainability) yang tidak mengkotak-kotakkan ilmu dan pengetahuan berdasarkan disiplin ilmu, budaya, dan letak geografis.
Daftar Pustaka:
Nurkolis, 2006, Manajemen Berbasis Sekolah, Grasindo: Jakarta

.
Selengkapnya…


PRINSIP-PRINSIP MBS (Manajemen Berbasis Sekolah)

| View Comments |
|

Teori yang digunakan MBS untuk mengelola sekolah didasarkan pada empat prinsip, yaitu prinsip ekuifinalitas, prinsip desentralisasi, prinsip sistempengelolaan mandiri, dan prinsip inisiatif sumber daya manusia.

1. Prinsip Ekuifinalitas (Principle of Equifinality)

Prinsip ini didasarkan pada teori manajemen modern yang berasumsi bahwa terdapat beberapa cara yang berbeda-beda untuk mencapai suatu tujuan. MBS menekankan fleksibilitas sehingga sekolah harus dikelola oleh warga sekolah menurut kondisi mereka masing-masing. Karena kompleksnya pekerjaan sekolah saat ini dan adanya perbedaan yang besar antara sekolah yang satu dengan yang lain, misalnya perbedaan tingkat akademik siswa dan situasi komunitasnya, sekolah tak dapat dijalankan dengan struktur yang standar di seluruh kota, provinsi, apalagi Negara.



Pendidikan sebagai entitas yang terbuka terhadap berbagai pengaruh eksternal. Ole karena itu, tak menutup kemungkinan bila sekolah akan mendapatkan berabgai masalah sepertihalnya institusi umum lainya. Pada zaman yang lingkungannmya semakin kompleks ini maka sekolah akan semakin emndapatkan tantangan permasalahan.

Sekolah arus mampu memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapinya dengan cara yang paling tepat dan sesuai dengan situasi dan kondisinya. Walaupun sekolah yang berbeda memiliki masalah yang sama, cara penanganannya akan berlainan antara sekolah yang satu dengan yang lain.

2. Prinsip Desentralisasi (Principle of Decentralization)

Desentralisasi adalah gejala yang penting dalam reformasi manajemen sekolah modern. Prinsip desentralisasi ini konsisten dengan prinsip ekuifinaltias. Prinsip desentralisasi dilandasi oleh teori dasar bahwa pengelolaan sekolah dan aktivitas pengajaran tak dapat dieleakkan dari kesultian dan permasalhaan. Pendidikan adalah masalah yang rumit dan kompleks sehingga memerlukan desentralisasi dalam pelaksanaannya.

Prinsip ekuifinalitas yang dikemukakan sebelum mendorong adanya desentralisasi kekuasaan dengan mempersilahkan sekola memiliki ruang yang lebih luas untuk bergerak, berkembang,d an bekerja menurut strategi-strategi unik mereka untuk menjalani dan mengelola sekolahnya secara efektif.

Oleh karena itu, sekolah harus diberi kekuasaan dan tanggung jawab untuk memecahkan memecahkan masalahnya secara efektif dan secepat mungkin ketika masalah itu muncul. Dengan kata lain, tujuan prinsip desentralisasi adalah efisiensi dalam pemecahan masalah, bukan menghindari masalah. Oleh karena itu, MBS harus mampu menemukan masala, memecahkannya tepat waktu dan memberi sumbangan yang lebih besar terhadap efektivitas aktivitas pengajaran dan pembelajaran. Tanpa adanya desentralisasi kewenangan kepada sekolah itu sendiri maka sekolah tidak dapat memecahkan masalahnya secara cepat, tepat, dan efisien.

3. Prinsip Sistem Pengelolaan Mandiri

MBS tidak mengingkari bahwa sekolah perlu mencapai tujuan-tujuan berdasarkan suatu kebijakan yang telah ditetapkan, tetapi terdapat berbagai cara yang berbeda-beda untuk mencapainya. MBS menaydari pentingnya untuk mempersilahkan sekolah menjadi system pengelolaan secara mandiri di bawah kebijakannya sendiri. Sekolah memiliki otonomi tertentu untuk mengembangkan tujuan pengajaran strategi manajemen, distribusi sumber daya manusia dan sumber daya lainnya, memecahkan masalah, dan mencapai tujuan berdasarkan kondisi mereka masing-masing. Karena sekolah dikelola secara mandiri maka mereka lebih memiliki inisiatif dan tanggung jawab.

Prinsip ini terkait dengan prinsip sebelumnya, yaitu prinsip ekuifinalitas dan prinsip desentralisasi. Ketika sekolah menghadai permasalahan maka harus diselesaikan dengan caranya sendiri. Sekolah dapat menyelesaikan masalahnya bila telah terjadi pelimpahan weewnang dari birokrasi di atasnya ke tingkat sekolah. Dengan adanya kewenangan di tingkat sekolah itulah maka sekolah dapat melakukan system pengelolaan mandiri.

4. Prinsip Inisiatif Manusia (Principle of Human Initiative)

Perspektif sumber daya manusia menekankan bahwa orang adalah sumber daya berharga di dalam organisasi sehingga poin utama manajeman adalah mengembangkan sumber daya manusia di adalam sekolah untuk berinisitatif. Berdasarkan perspektif ini maka MBS bertujuan untuk membangun lingkungan yang sesuai untuk warga sekolah agar dapat bekerja dengan baik dan mengembangkan potensinya. Oleh karena itu, peningkatan kualitas pendidikan dapat diukur dari perkembangan aspek sumber dayamanusianya.

Prinsip ini emngakui bahwa manusia bukanlah sumber daya yang statis, emlainkan dinamis. Oleh karena itu, potensi sumber daya manusia harus selalu digali, ditemukan, dan kemudina dikembangkan. Sekolah dan lembaga pendidikan yang lebih luas tidak dapat lagi menggunakan istlah staffing yang konotasinya hanya mengelola manusia sebagai barang yang statis. Lemabga pendidikan harus menggunakan pendekatan human resources development yang memiliki konotasi dinamis dan asset yang amat penting dan memiliki potensi untuk terus dikembangkan.

Daftar Pustaka:
Nurkolis, 2006, Manajemen Berbasis Sekolah, Grasindo: Jakarta
http://datafilecom.co.cc

.
Selengkapnya…


Mau Berlangganan Artikel Gratis dari Data File Com?

Tulis Email Anda disini:

Setelah Menekan Berlangganan, Kami Membutuhkan Verifikasi dari Email Anda, Agar Kami Bisa Mengirimkan Postingan Terbaru kami ke Email Anda, Jadi silahkan Cek Inbox Email anda setelah mendaftar, dan Klik Link Verifikasi

By Admin

 
..:A:..
Akhi Abdul
Agha'ku
Pak Haris Setiadji
anggasona-anotherbestblog
..:B:..
Blog_Vaganza
Blog Junaidi
...
..:C:..
...
..:D:..
...
..:E:..
E-One S
...
..:F:..
...
..:G:..
...
..:H:..
...
..:I:..
Imanq
Insurance Finance
...
..:J:..
...
..:K:..
KELPOLOVA
KETEP PASS
...
..:L:..
...
..:M:..
...
..:N:..
Nanie Granger
n66ee
...
..:O:..
...
..:P:..
...
..:Q:..
...
..:R:..
...
..:S:..
STAIN Metro
...
..:T:..
...
..:U:..
Urang Lembur
...
..:V:..
...
..:W:..
Wong Ganteng
...
..:X:..
...
..:Y:..
...
..:Z:..
...
Salam Hangat dariku
::| DFC |::
::|Admin|::

Page Rank
 
Back To Top